Upaya Guru Tahfiz Mengatasi Kesulitan Menghafal Al-Qur’an Siswa Kelas Rendah
DOI:
https://doi.org/10.61253/654ntt07Keywords:
Kelas Rendah (1-3), Metode Tikrar, Pembelajaran Berdiferensiasi, Sinergi Orang Tua, Tahfiz Al-Qur’anAbstract
Pembelajaran tahfiz Al-Qur'an pada fase transisi operasional konkret (kelas rendah) kerap terbentur oleh problem fisiologis-psikologis, buta aksara hijaiyah, heterogenitas daya ingat anak, hingga lemahnya kontrol wali murid di rumah. Penelitian ini mengkaji potret strategi instruksional dan taktik manajerial dalam mengoptimalkan Metode Tikrar, merancang pembelajaran berdiferensiasi, serta mengurai sumbatan kemitraan antara pihak sekolah dan orang tua. Temuan lapangan mengindikasikan bahwa modifikasi Metode Tikrar lewat teknik pemenggalan kata (part-by-part memorization), yang diintegrasikan dengan matrikulasi makharijul huruf, Islamic storytelling, dan sinema edukatif, efektif mengeliminasi kejenuhan serta keterbatasan kognitif siswa. Guna menjembatani kesenjangan performa akademis, model Differentiated Instruction diterapkan melalui bimbingan individu (one-on-one coaching) berbasis scaffolding serta pemisahan tata kelola kurikulum antara Ziyadah klasikal dan Muraja'ah personal terstruktur (Tasmi'). Di sisi lain, resistensi pengawasan di lingkungan domestik disiasati melalui pendekatan persuasif wali kelas, pengkondisian perilaku positif via sistem reward, dan forum konseling periodik. Secara filosofis-teologis, evaluasi kelulusan tidak mengacu pada angka capaian yang kaku, melainkan pada penghargaan terhadap proses belajar anak. Kolaborasi taktis antara metode repetisi yang terukur dan stimulus psikososial ini terbukti sukses mengantarkan siswa menguasai Juz Amma secara itqan di akhir jenjang kelas 3.
