TANEAN LANJENG SEBAGAI BASIS EPISTEMOLOGI LOKAL: REKONTEKSTUALISASI PARADIGMA INTEGRASI-INTERKONEKSI DI UIN MADURA
DOI:
https://doi.org/10.61253/nayx6c40Keywords:
Tanean Lanjeng, epistemologi lokal, integrasi-interkoneksi, keilmuan Islam, UIN MaduraAbstract
Paradigma integrasi-interkoneksi yang dikembangkan oleh M. Amin Abdullah telah menjadi salah satu fondasi epistemologis dalam transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia. Paradigma ini berhasil mengurangi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum melalui pendekatan multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner. Meskipun demikian, pengembangannya masih cenderung beroperasi pada tataran filosofis yang bersifat universal sehingga belum secara optimal mengakomodasi budaya lokal sebagai sumber epistemologi dalam konstruksi keilmuan Islam. Artikel ini bertujuan menganalisis potensi Tanean Lanjeng sebagai basis epistemologi lokal dalam merekontekstualisasi paradigma integrasi-interkoneksi di UIN Madura. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari karya-karya M. Amin Abdullah, literatur mengenai epistemologi lokal, serta kajian tentang Tanean Lanjeng dan budaya masyarakat Madura. Analisis dilakukan melalui pendekatan hermeneutik dan analisis konseptual untuk mengidentifikasi nilai-nilai epistemologis yang terkandung dalam Tanean Lanjeng serta relevansinya terhadap pengembangan paradigma keilmuan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanean Lanjeng tidak hanya merepresentasikan pola permukiman tradisional masyarakat Madura, tetapi juga mengandung prinsip-prinsip epistemologis berupa religiusitas, komunalitas, keterhubungan, musyawarah, dan tanggung jawab sosial. Kelima nilai tersebut membentuk model produksi pengetahuan yang bersifat relasional, dialogis, dan berorientasi pada kemaslahatan sosial. Temuan ini memperlihatkan bahwa budaya lokal dapat berfungsi sebagai sumber epistemologi yang memperkaya paradigma integrasi-interkoneksi. Artikel ini mengusulkan perluasan paradigma integrasi-interkoneksi melalui pengakuan terhadap dimensi budaya lokal sebagai sumber pengetahuan yang sah dalam pengembangan keilmuan Islam. Dengan demikian, rekontekstualisasi integrasi-interkoneksi berbasis Tanean Lanjeng menawarkan model pengembangan ilmu yang lebih kontekstual, inklusif, dan berakar pada pengalaman sosial budaya masyarakat.
